![]() | ||
Peta Wilayah Indonesia (Merah) seusai Operasi Burung Gagak |
-----------------------------------------------
Keinginan pihak Belanda untuk tetap memaksa mendirikan negara federal di bawah takhta Ratu Belanda (atau yang dikenal dengan Uni Indonesia-Belanda) setelah Perjanjian Renville dengan cara menekan Pemerintah Republik Indonesia di Jogja melalui jalur politik menemui banyak kesulitan terutama karena semangat kemerdekaan yang begitu besar di jiwa politisi maupun tentara Republik Indonesia.
Pada tanggal 26 November 1948, kabinet Belanda mengirimkan delegasi yang terdiri dari tiga orang : Menteri Seberang Lautan Mr. E.J.M.A. Sassen, Menteri Luar Negeri Mr. D.U. Stikker dan utusan tertinggi pemerintah, L. Neher untuk melakukan pembicaraan politik dengan Pemerintah Republik Indonesia maupun dengan kaum nasionalis-federal bagi tercapainya suatu pemecahan yang lestari.
Pertemuan dengan pihak Republik berlasung di Kaliurang-Jogjakarta dengan turut pula mengundang para Perdana Menteri Negara Indonesia Timur dan Pasundan serta Sultan Pontianak. Delegasi Republik Indonesia sendiri dipimpin oleh Mohammad Hatta.
Hatta dan Sassen mengadakan pembicaraan terakhir pada tanggal 30 November 1948. Selama pembicaraan ini dipastikan bahwa kedua belah pihak tidak dapat mencapai kata sepakat tentang beberapa pasal. Pemerintah Republik Indonesia bertahan pada pendirian bahawa TNI secara keseluruhan harus ditampung ke dalam angkatan perang federal. Sementara Pemerintah Belanda bersitegang supaya TNI dibubarkan dan penampungan secara orang per orang setelah disaring dan disekolahkan kembali.
Pada hari Minggu tanggal 5 Desember 1948, Sassen dan Stikker kembali ke Belanda, ketua delegasi digantikan oleh Mr. Elink Schuurman yang pada tanggal 11 Desember 1948 mengeluarkan pernyataan bahwa perundingan dengan pihak Republik telah gagal dan dua hari kemudian, yaitu pada hari Senin tanggal 13 Desember 1948, kabinet Belanda memberikan perintah untuk mengadakan agresi militer beberapa hari kemudian.
Catatan Anak Agung menyebutkan, “Pemerintah Kerajaan sudah merasa tidak lagi memiliki peluang. Sehingga mereka kemudian mengirimkan kata sandi, ‘Nein’. Artinya, Dr. Louis Beel (Wakil Agung Mahkota/Gubernur Jenderal, menggantikan van Mook yang mengundurkan diri pada tanggal 1 November 1948) diizinkan untuk melancarkan operasi militer pada pukul 00.00, hari Minggu dini hari tanggal 19 Desember 1948”
Pemberitahuan rencana serangan pihak Belanda kepada pihak Republik baru dilakukan pada sabtu malam 18 Desember 1948 jam 21.00 waktu Batavia melalui surat kepada Mr. Soedjono, Sekretaris Jenderal Delegasi Republik. Cuplikan surat itu berisi, “ … the said agreement should be terminated and is considered as no longer binding as from Sunday, 19 December, 1948, 00.00 hours, Batavia time”. Setelah menyimpulkan bahwa Belanda akan melakukan agresi, Soedjono berusaha menghubungi Perdana Menteri Hatta yang berada di Jogja, namun tidak berhasil dilakukan karena hubungan komunikasi antara Batavia-Jogja telah diputus oleh pihak intelejen militer Belanda.
Demikian pula usahanya untuk menggunakan pesawat udara menuju Jogja gagal diperoleh karena bandara Kemayoran telah ditutup untuk penerbangan domestik. Sehingga jelas sudah bahwa keadaan Jogja sama sekali buta terhadap agresi militer Belanda, dan pihak Republik tidak terlalu siap secara militer menghadapi serangan tersebut.
Target pertama ‘Operatie Kraai’ yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Simon Spoor adalah lapangan terbang Maguwo. Ia mengandalkan KST (Korps Speciale Troepen) yang bermarkas di Batujajar. Pasukan tersebut merupakan bagian dari Grup Tempur M, yakni dua kompi pasukan payung baret merah KST yang didukung oleh komando baret hijau di bawah pimpinan Letnan Kolonel van Beek. Pasukan ini merupakan bagian dari Brigade T (Brigade ‘Tijger’) pimpinan Kolonel van Landen.
Sebagai pasukan khusus andalan KL (Koninlijkle Leger-Tentara Kerajaan), KST memiliki kualifikasi para dan komando. Pasukan payung memakai baret merah, sedangkan baret pasukan komando berwarna hijau.
Persiapan Spoor untuk merebut Maguwo dengan sekali pukul, sangat mengesankan. Kesuksesan serbuan tersebut bertumpu sebenuhnya pada pukulan pertama, yaitu serangan udara mendadak. Oleh karena itu, gelar kekuatan pasukan udaranya merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan oleh tentara Belanda.
Menurut catatan, di Pangkalan Udara Kalijati Bogor, dipersiapkan sebuah pesawat Lockhead L-12 dan enam buah pesawat tempur Harvard. Kemudian di Cililitan, Batavia, empat pesawat Mitchell B-25 bersama dua pesawat Mustang P-51. Di landasan Andir Bandung, 16 pesawat Dakota C-47, sebuah pesawat pengebom Mitchell B-25 bersama empat pesawat pengintai Piper Cub.
Di landasan Udara Kalibanteng Semarang telah disiapkan pula 20 pesawat angkut Dakota C-47, sebuah Lockheed L-12, dikawal sepuluh pesawat pemburu Spitfire, lima buah pengebom Mitchell B-25 berikut empat pesawat Auster. Sedangkan di landasan Udara Surabaya disiapkan empat pesawat Auster, enam pesawat Fireflikes dan 3 pesawat angkut Catalina. Total jumlah pesawat yang terlibat Operasi Burung Gagak ini adalah 87 pesawat angkut dan tempur !
Pemanfaatan pesawat tempur sebagai pelopor gerak maju serbuan pasukan darat sekaligus memicu kekacauan berikut kepanikan terhadap penduduk sipil, meniru serangan pesawat terbang Nazi semasa menyerbu Belanda awal bulan Mei 1940. Sebab, kekacauan yang terjadi ketika warga sipil sibuk mengungsi. Dipastikan bakal mengacau mobilitas berikut efektivitas pasukan yang harus mampu mempertahankan sasaran.
Setelah memberikan briefing terakhir kepada pasukannya di lapangan udara Andir Bandung pada malam tanggal 18 Desember 1948, Spoor memberikan kata penutup,
"Ik stel mijn volle vertrowen Uw houding. Moge God ij leiden en behoeden in de komende dagen ..." ("Saya menaruh kepercayaan sepenuhnya. Semoga Tuhan melindungi dan membimbingmu di hari-hari medatang ..."), sesaat setelah itu 'Operatie Kraai' dimulai.
Sesuai dengan kualifikasinya, maka dua kompi pasukan para baret merah KST bertugas merebut Maguwo. Sedangkan pasukan komando baret hijau bakal didaratkan di Maguwo sesudah landasan berhasil dilumpuhkan oleh baret merah. Dalam skenario yang disusun dengan cermat, pasukan baret hijau kemudian harus menyerbu Jogja dengan serentak dan kemudian menaklukannya sebelum senja.
Dalam pertarungan yang tidak seimbang memperebutkan Maguwo, pihak Republik kehilangan sekitar 40 orang pahlawannya yang sebagian besar merupakan para taruna Angkatan Udara.
Kota Jogjakarta sendiri terletak sekitar 7 km sebelah barat Maguwo. Ada dua jalan dari Maguwo menuju Jogja. Jalan lama adalah yang terpenting, yaitu jalan dari Solo ke Jogja. Agak di sebelah selatan lapangan terbang ada jalan Wonosari-Jogja yang langsung menuju pusat kota. Kedua rute tersebut digunakan oleh pasukan Belanda.
Walaupun perlawanan yang terorganisasi boleh dikatakan tidak ada, kedua kolone gerakannya lamban. Berulang kali mereka terantuk oleh kelompok kecil penembak senapan yang berlindung di balik tembok, pohon ataupun barikade yang dibuat tergesa-gesa, tetapi melakukan perlawanan dengan gagah berani.
Perlahan tapi pasti, mereka yang mempertahankan didesak mundur dan menjelang setengah tiga sore, kolone Selatan mencapai jantung kota Jogja, yang dalam jarak tidak terlalu jauh dari tempat bangunan serta monument terpenting kota itu berada, yaitu keraton, alun-alun serta Istana Presiden.
Menjelang senja tanggal 19 Desember 1948, istana presiden dikepung oleh kolone Utara yang juga telah sampai ke pusat kota. Sebagai jawaban, di pendopo istana muncul seseorang yang membawa bendera putih, suatu isyarat bahwa Presiden dan pembantunya bersedia menyerahkan diri. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Komodor Suryadarma dan beberapa menteri dibawa ke Maguwo untuk suatu pertemuan dengan komandan Brigade T, Kolonel van Langen.
Pustaka :
(1) Agresi Militer Belanda. Pierre Heijboer. Grasindo. 1998.
(2) Doorstoot Naar Djokja. Julius Pour. Kompas. Desember 2009.
(3) Renville. Ide Anak Agung Gde Agung. Pustaka Sinar Harapan. 1991.
(4) Catatan Kecil Indonesia
Casino 2021 - DRMCD
BalasHapusCasino 2021 - DRMCD has been voted Top Choice for its 수원 출장샵 outstanding games, graphics, and responsive design. 진주 출장마사지 Read Casino 2021 진주 출장안마 review and see our casino bonus Rating: 4.5 · Review 서귀포 출장마사지 by Dr 의정부 출장마사지
joya shoes 265c0ljzaq599 outdoor,INSOLES,Joya Shoe Care,walking,fashion sneaker,boots joya shoes 767s1vowsk431
BalasHapus