“Den vaderland getrouwe, blijf ik tot in den dood (Loyal to the fatherland, I will remain until I die)” – Het Wilhelmus
---------------------------------------
Pada Piala Dunia 1938 di Perancis, FIFA mengundang Hindia Belanda ‘merepresentasikan’ wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Pada waktu itu wadah sepakbola Hindia Belanda yang diundang oleh FIFA adalah NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) meski pada saat yang sama terdapat pula PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) yang juga merupakan wadah organisasi sepakbola di wilayah Hindia Belanda.
Sebenarnya atas undangan FIFA, NIVU dan PSSI telah membuat kesepakatan “Gentlemens Agreement” antara Masterbroek (NIVU) dan Ir. Soeratin (PSSI) pada tanggal 5 Januari 1937 untuk mengadakan pertandingan antara tim yang dibentuk NIVU dan tim yang dibentuk oleh PSSI, dimana pemenangnyalah yang akan dikirim ke ajang Piala Dunia, namun kemudian NIVU membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut yang kemudian menyebabkan PSSI pada kongres di Solo tahun 1938 memutuskan melarang seluruh pemain yang berada di naungan PSSI ikut bergabung di tim NIVU jika diminta. Dengan demikian pemain-pemain PSSI berkelas seperti kiper R. Maladi kehilangan kesempatan bermain di Piala Dunia.
NIVU (sebelum tahun 1936 bernama NIVB-Nederlandsche Indische Voetbal Bond) sendiri mempunyai sejarah yang panjang sepakbola di nusantara. Bermula dari pertandingan antar klub yang berada di Batavia, Bandung, Semarang dan Surabaya pada tahun 1914, maka pada tahun 1919 berdirilah NIVB guna mengelola pertandingan sepakbola menjadi lebih teratur dan profesional di Hindia Belanda. Di tahun 1922, tercatat total pemasukan dari penjualan tiket di bawah naungan NIVB sebesar 12.425,- gulden.
Namun sayang kompetisi yang diadakan oleh NIVU cenderung diskriminatif. Mereka membagi kompetisi sepakbola menjadi 3 bagian. Kelas I khusus orang Eropa, kelas II untuk pemain Tionghoa dan pemain pribumi dimasukan ke kelas III. Hal inilah yang kemudian membangkitkan semangat Nasionalisme Soeratin Sosrosoegondo. Sekembalinya dari Jerman setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Teknik di Heckelenburg, Ir. Soeratin mengumpulkan klub sepakbola pribumi (kelas III) untuk mendirikan satu wadah sepakbola yang lebih nasionalis dan kemudian menghasilkan berdirinya PSSI pada tanggal 19 April 1930 di Solo. Dan semenjak itu dimulailah persaingan antara NIVB/NIVU dengan PSSI dimana puncaknya pada event Piala Dunia 1938 di Perancis.
Di babak penyisihan Asia, Tim Nasional Hindia Belanda bergabung di grup 12 bersama Jepang, tetapi karena sedang di bawah bayang-bayang perang dengan Cina, tim Jepang mengundurkan diri. Dengan demikian Timnas Hindia Belanda melenggang menuju Perancis. Pemilihan Perancis sendiri sebagai tuan rumah piala dunia 1938 mengundang protes dari negara-negara Amerika Selatan, karena sebelumnya FIFA berjanji mengadakan piala dunia 1938 di benua Amerika. Akibatnya tim-tim kuat Latin seperti Uruguay dan Argentina memboikot liga akbar tersebut.
Dengan demikian di tengah-tengah tribulasi politik dan perang, ada 15 tim yang mengikuti putaran final Piala Dunia 1938, yaitu : NAZI (Jerman), Italia, Swedia, Norwegia, Brazil, Kuba, Swiss, Polandia, Rumania, Hongaria, Cekoslowakia, Belanda, Belgia dan terakhir tim ’es tjampur’-kuda hitam Hindia Belanda atau Hindia Timur. Karena ada ’dua’ tim Belanda yang ikut, hal ini sempat mengundang kecurigaan kesebelasan lain meski isu itu hilang dengan sendirinya.
Sistem yang digunakan pada Piala Dunia 1938 adalah sistem ’Knock Out’, dimana tim yang kalah langsung gugur dan pulang. Sistem ini juga merupakan sistem terakhir yang digunakan di Piala Dunia. Pada piala dunia berikutnya digunakan sistem setengah turnamen. Dari hasil pengundian, kesebelasan Hindia Belanda bertemu dengan Hongaria yang pada waktu itu merupakan salah satu tim terkuat di benua Eropa.
Ditangani pelatih Johannes van Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia Belanda berasal dari liga kompetisi yang dikelola oleh NIVU dan mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda yang kemudian direkrut ke dalam tim nasional. Berikut susunan pemain inti kesebelasan Tim Nasional Hindia Belanda :
1. Mo Heng Tan (Penjaga Gawang, HCTNH Malang)
2. Achmad Nawir (Kapten, Penyerang, HBS Soerabaja)
3. Hong Djien Tan (Penyerang, TH Soerabaja)
4. Frans Alfred Meeng (Gelandang, SVB Batavia)
5. Isaak Pattiwael (Penyerang, Jong Ambon)
6. Hans Taihuttu (Penyerang, Jong Ambon)
7. Suvarte Soedarmadji (Penyerang, HBS Soerabaja)
8. Anwar Sutan (Gelandang, Vios Batavia)
9. Henk Sommers (Penyerang, Hercules Batavia)
10. Frans G. Hukon (Belakang, Sparta Batavia)
11. Jack Samuels (Belakang, Excelsior Soerabaja)
Tanggal 18 Maret 1938 dengan menggunakan Kapal MS Johan van Oldenbarnevelt dari Tandjoeng Priok, Batavia, kesebelasan tim nasional Hindia Belanda bertolak ke Belanda. Setelah 3 bulan melakukan perjalanan laut akhirnya mereka tiba di Pelabuhan Rotterdam. Harian Sin Po, yang menyebut timnas Hindia Belanda ini dengan ”Indonesia” melaporkan kegiatan kesebelasan tersebut sebagai berikut :
(1) Edisi 26 Mei 1938 : Petinggi NIVU menemui Menteri Urusan Tanah Jajahan.
(2) Edisi 27 Mei 1938 : Timnas bertanding melawan HBS, skor 2-2.
(3) Edisi 28 Mei 1938 : Dilaporkan kiper Mo Heng Tan cedera. Dikabarkan juga Timnas menonton pertanding salah satu klub raksasa Belanda, Feyenoord.
(4) Edisi 2 Juni 1938 : Timnas menang dalam partai uji coba melawan Klub Harleem dengan skor 5-3.
Pada akhirnya tibalah pertandingan antara timnas Hinda Belanda dengan Hongaria yang berlangsung di kota Reims, sekitar 129 km dari Paris tanggal 5 Juni 1938 pukul 17.00 waktu setempat. Stadion yang digunakan adalah Velodrome Municipal. Pertandingan tersebut dihadiri oleh sekitar 9000 penonton dan wartawan dari 27 negara serta diawali lagu kebangsaan kedua negara, tentu saja lagu kebangsaan timnas Hindia Belanda yang diperdengarkan adalah ”Het Wilhelmus”,
Wilhelmus van Nassaouwe (Wilhemus of Nassau)
Ben ik, van Duitsen bloed (am I, of German blood)
Den vaderland getrouwe (Loyal to the fatherland)
Blijf ik tot in den dood (I will remain until I die)
Een Prinse van Oranje (A Prince of Orange)
Ben ik, vrij, onverveerd (am I, free and fearless)
Den Koning van Hispanje (The King of Spain)
Heb ik altijd geerd (I have always honoured)
…
Pelatih Johannes van Mastenbroek menerapkan formasi yang cukup ’aneh’ jika diterapkan pada sepakbola modern terhadap timnas Hindia Belanda, yaitu 2-2-6, dimana pemain belakang terdiri dari 2 orang, pemain tengah 2 orang dan menumpuk penyerang hingga 6 orang. Meski memborbardir gawang Hongaria dengan begitu banyak ’striker’ & ’attacking midfielder’, timnas Hinda Belanda gagal memasukan sebuah gol pun dan sebaliknya jala Mo Heng Tan kebobolan 6 kali pada menit ke 13, 15, 28 dan 35 di babak pertama serta tambahan dua gol di babak kedua.
Gol-gol Hongaria dilesakan oleh Vilmos, Toldi, Sarosi dan Zsengeller. Bahkan kemudian Sarosi dan Zsengeller menjadi 3 besar ’top scorer’ di Piala Dunia 1938. Namun demikian sebenarnya bukan hanya Hindia-Belanda yang dibantai oleh Hongaria, tim Swedia pun dilumat 5-0 di semifinal, meski akhirnya mesin diesel Hongaria menyerah 2-4 dari Italia di babak final. Hal ini memang menunjukan bahwa timnas Hindia Belanda tidak terlalu kalah kelas dengan tim-tim Eropa.
Walaupun kalah di pertandingan pertama putaran final Piala Dunia 1938, beberapa media memberikan pujian pada timnas Hindia Belanda. Surat Kabar Perancis ”Le Figaro”, memuji semangat juang kesebelasan Hindia Belanda, ”The Sunday Times” memuji ’fair play’ mereka dan pada edisi 7 Juni 1938, Harian Sin Po menampilkan headline nan heroik, ”Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Saoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”.
Dirangkum dari berbagai sumber.
Pustaka :
(1) Catatan Kecil Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar