Senin, 30 Mei 2011

Soempah Pemoeda

Di tahun 1920, ketika Mohammad Yamin berusia 17 tahun, ia mempromosikan pentingnya bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan orang Sumatra. Hal ini merupakan pengakuan terhadap kesusastraan Melayu sebagai warisan budaya masyarakat pada umumnya. Dan di bulan April-Mei 1926 yaitu pada Kongres Pemuda Indonesia I (Eeerste Indonesich Jeugdcongres) di Batavia, Yamin menyampaikan -dalam bahasa Belanda- sebuah pandangan yang membahas bahasa Melayu sebagai dasar pengembangan masa depan suatu bahasa dan kesusastraan yang bernuansa “Indonesia”.

Ketika itu, ia menyampaikan pandangannya bahwa pengembangan itu akan terjadi secara bertahap (langzamerhand). Kemudian dalam rentang waktu dua tahun, ia juga aktif mendorong pergerakan pemuda menuju pemuda Indonesia yang ideal. Ia sendiri ketika itu adalah sebagai pimpinan Jong Sumatranen Bond.

Pada Kongres Pemuda Indonesia II tanggal 26-28 Oktober 1928 yang dipimpin oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI), Yamin menyusun komposisi dari resolusi yang dihasilkan konggres (Foulcher, 2008) Adapun bunyi dari sebagian deklarasi tersebut adalah,

“Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”

Patut juga dicatat disini, PPPI yang berdiri di tahun 1925 dan beranggotakan siswa dan mahasiswa sekolah-sekolah tinggi di Jakarta dan Bandung, melakukan kegiatan yang bersifat “meneruskan” kepada masyarakat, cita-cita Perhimpoenan Indonesia (PI), suatu organisasi pelajar yang berada di negeri Belanda meskipun mereka tidak memiliki kaitan secara langsung. Artinya, secara tidak langsung PI telah menjadi inspirasi bagi pemuda dan pelajar yang berada di Hindia Belanda.

Kebalikan dari kongres 1926, bahasa utama yang digunakan sebagai pengantar pada Oktober 1928 adalah bahasa Melayu atau Indonesia. Keputusan menggunakan bahasa Melayu-Indonesia ternyata menimbulkan kebingungan diantara peserta konferensi. Van der Plas, pengamat resmi dari pemerintah kolonial memberikan catatannya sebagai berikut,

“De leider van het congres, de student Soegondo, was in het geheel niet voor zijn taak berekend en miste gezag. His trachtte de ‘Indonesiche taal’ te spreken, waarin hij zich allen zeer gebrekkig bleek te kunnen uit drukken

Yang artinya,

“Pemimpin kongres, pelajar Soegondo, tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurangan otoritas. Ia mencoba untuk berbicara ‘bahasa Indonesia’, tetapi tidak mampu membuktikan dirinya mampu melakukan dengan baik”

Van der Plas juga menambahkan bahwa ada penolakan secara diam-diam diantara peserta terhadap penggunaan bahasa Melayu.

Di hari kedua kongres, Ny. Poernomowoelan maju sebagai panelis dengan membawakan artikel dengan tema tentang pendidikan dalam bahasa Belanda. Hal ini mendapatkan tanggapan dari peserta kongres, “Diterdjemahkan2 ! (sic) Dimelajoekan2 !” (Fadjar Asia, 1928). Yamin yang pada waktu itu bertindak sebagai sekretaris kongres maju untuk membawakan versi bahasa Melayu dari pidato tersebut di hadapan peserta yang sebagian besar berlatar pendidikan belanda.

Pemisahan secara simbolis dengan bahasa kolonial yang membedakan nasionalisme Indonesia dari pergerakan nasionalis saat itu mulai berjalan dalam dunia kolonial. Paling tidak salah satu peserta kongres merasa perlu meminta maaf karena menggunakan bahasa Belanda. Ia menyesal bahwa ia sendiri sebagai anak Indonesia tidak bisa berkata dalam bahasa sendiri.

Di era kemerdekaan, tanggal 28 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun demikian sebenarnya, peringatan pertama kali, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1949, bukan diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda tetapi oleh Soekarno diperingati sebagai hari lahirnya lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang memang pada Kongres Pemuda II diperdengarkan secara instrumental oleh Wage Rudolf Supratman.

Sekali lagi peran Yamin terlihat disini. Dalam kapasitasnya sebagai menteri, pada tanggal 28 Oktober 1954 ketika memberikan pidato di pembukaan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan, ia mengatakan bahwa 28 Oktober 1928 adalah tanggal ketika “Indonesia Raya” dilahirkan, juga saat ketika frase bahasa Indonesia pertama kali digunakan dalam sebuah kongres pemuda yang diselenggarakan di Jakarta. Dari sini dapat dicermati jika Yamin sedang membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan Negara.

Akhirnya, Hari Sumpah Pemuda secara resmi dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1955, dalam perayaan kunjungan kepresidenan selama dua hari di Solo. Perayaan ini juga mengikutsertakan sebuah pembacaan publik dari Sumpah Pemuda, “Jang berisikan djanji berbahasa satu, bertanah air satu dan berbangsa satu !” (Merdeka, 1955)

Pustaka :

(1) Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. A.K.Pringgodigdo SH. Dian Rakyat. 1984.
(2) Sumpah Pemuda. Keith Foulcher. Komunitas Bambu. 2008. 

(3) Catatan Kecil Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar